Ngawi (7/8). Di tengah hamparan hijau Perkebunan Teh Jamus, di Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi yang sejuk dan menenangkan, sebuah pemandangan yang jarang ditemui di tempat lain justru tampak begitu alami di sini. Sebuah Masjid dan Gereja berdiri berdampingan, hanya dipisahkan oleh jalan kecil yang menjadi penghubung utama di lingkungan kebun teh.
Fenomena ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol hidup dari toleransi dan harmoni antarumat beragama yang sudah mengakar puluhan tahun di kalangan masyarakat pekerja perkebunan. Para pekerja yang mayoritas beragama Islam dan sebagian Katolik hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati keyakinan masing-masing tanpa merasa terganggu.
“Di sini, kami terbiasa mendengar adzan dan lonceng gereja bersahutan, dan itu bukan masalah. Kami justru merasa ini bentuk keindahan Indonesia yang sebenarnya,” ujar Bapak Tarmono, salah satu tokoh masyarakat yang menjadi Ketua Lingkungan Gereja Katolik Santo Petrus Jamus sekaligus pekerja di Perkebunan Teh Jamus.
Masjid LDII Bustanul Ma’mur dan Gereja Katolik Santo Petrus Jamus dibangun dengan semangat pelayanan spiritual yang sama, menjadi tempat berlindung rohani bagi para karyawan dan keluarganya. Pada hari Jumat, halaman masjid dipenuhi orang orang yang salat Jumat. Sementara pada hari Minggu sore, nyanyian pujian dari gereja terdengar lembut menyatu dengan suara alam pegunungan Lawu.
Toleransi bukan sekadar slogan di sini. Masyarakat aktif menghidupkan nilai-nilai saling menghargai, bahkan dalam aktivitas sosial. Dalam acara gotong royong atau perayaan hari besar seperti Idul Fitri dan Natal, umat dari kedua agama saling membantu dan hadir sebagai bentuk dukungan.
Bapak Ahmad Heri selaku Takmir Masjid LDII Bustanul Ma’mur Jamus, menuturkan bahwa anak-anak masjid diajarkan sejak dini untuk saling menghargai perbedaan. “Kami ingin generasi sekarang tetap membawa semangat damai ini. Supaya perbedaan tak lagi jadi sumber perpecahan, tapi kekuatan.”
Keberadaan masjid dan gereja berdampingan ini seakan menjadi oasis toleransi di tengah berita-berita perpecahan yang sering terdengar. Jamus mengajarkan bahwa perdamaian bisa tumbuh subur seperti daun-daun teh yang menghijau, asalkan dirawat dengan niat baik dan saling pengertian.
Di tengah embun pagi dan aroma teh yang menguar, berdirilah dua rumah ibadah sebagai saksi bahwa Indonesia masih memiliki ruang-ruang kecil yang penuh harapan, tempat perbedaan tidak menjadi jurang, tapi jembatan. (Zoga Arbi Anggara – LINES Babat)























