Ngawi (7/8). Keberadaan Masjid LDII Bustanul Ma’mur di Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, yang berdiri berdampingan dengan sebuah gereja, menjadi contoh nyata kerukunan umat beragama. Hanya dipisahkan oleh sebuah jalan kecil, kedua rumah ibadah itu menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.
Masjid LDII Bustanul Ma’mur yang berada di lingkungan perkebunan teh Jamus menjadi pusat kegiatan ibadah umat Islam setempat. Di sisi lain, gereja yang berdiri berdampingan dengannya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Katolik, sebagian besar juga merupakan warga perkebunan. Pokja KIM DPD LDII Lamongan berkesempatan mewancari narasumber yaitu Ahmad Heri selaku Takmir Masjid pada hari Minggu (3/8). Menurut Takmir Masjid, Bapak Ahmad Heri, masjid tersebut telah lebih dulu berdiri sebelum adanya gereja di sampingnya, dan hingga kini tidak pernah terjadi gesekan antarumat beragama di lingkungan tersebut.
“Sejak awal, hubungan antara umat Islam dan umat Katolik di sini berjalan baik. Tidak pernah ada masalah. Bagi kami, toleransi itu penting karena Islam mengajarkan untuk hidup bersosial dan berteman dengan siapa pun, namun tetap berpegang teguh pada kepercayaan masing-masing. Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri,” ujar Ahmad Heri.
Lebih lanjut, Ahmad Heri menjelaskan bahwa kerukunan ini tidak hanya sebatas saling menghormati, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan nyata. Warga Muslim dan Katolik di Jamus rutin mengadakan pertemuan bulanan yang melibatkan tokoh agama setempat. Dalam pertemuan tersebut, mereka berdiskusi mengenai berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk rencana kerja bakti membersihkan lingkungan desa, pemeliharaan fasilitas umum, dan acara sosial lainnya.
Selain itu, Ahmad Heri menyebut ada kebijakan dari pihak direksi perusahaan perkebunan setempat yang mendukung terciptanya kesetaraan. “Jika masjid direnovasi atau dicat, gereja pun mendapat perlakuan yang sama. Dengan begitu tidak ada rasa iri di antara masyarakat. Hal ini membuat hubungan antarumat beragama semakin erat dan rukun,” jelasnya.

Suasana rukun di Jamus kian terasa dengan adanya interaksi sehari-hari antarwarga. Mereka saling menyapa, membantu saat ada warga yang membutuhkan, dan menjaga keamanan ketika ibadah berlangsung di masing-masing tempat. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk menjalin persaudaraan, justru menjadi alasan untuk saling melengkapi dalam kehidupan sosial.
Di akhir wawancara, Ahmad Heri menyampaikan harapannya agar semangat toleransi yang telah terjaga di Jamus dapat terus dirawat oleh generasi berikutnya. “Kami ingin anak cucu kami melanjutkan sikap saling menghormati ini, karena kerukunan adalah modal penting untuk hidup berdampingan,” tutupnya. (Zoga – LINES Babat)























