Ngawi (07/08) – Kawasan Kebun Teh Jamus yang terletak di Desa Girikerto, Kecamatan Sine, dulunya hanya berfokus pada produksi teh. Perkebunan ini didirikan oleh pengusaha Belanda bernama Van der Rappart pada tahun 1886. Setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, pengelolaan kini berada di bawah PT Candi Loka sejak 1973.
Namun pada tahun 2003, pihak pengelola mulai memikirkan konsep baru untuk memaksimalkan potensi besar yang tersimpan di kawasan ini, mulai dari keindahan alam, udara pegunungan yang sejuk, hingga sumber daya air yang melimpah. Pengelola membuka cabang agrowisata sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha.

“Dulu hanya berfokus pada perkebunan teh saja, tapi sekitar tahun 2003 kita ada penambahan cabang untuk agrowisata. Pada awalnya kita wisata dengan konsep kembali ke alam,” ucap Arya, salah satu pengelola Agrowisata Jamus.
Perubahan ini tidak hanya bertujuan untuk memperluas pasar, tetapi juga untuk memberikan kontribusi ekonomi bagi lembaga sosial keagamaan yang berada di bawah naungan yayasan pengelola.
“Kita punya Yayasan Pondok Pesantren Wali Barokah di Kediri dengan santri yang berjumlah lebih dari 12.000. Jadi salah satu tujuan dilakukannya penambahan ini adalah untuk menambah income kita, untuk operasional yayasan juga,” tambah Arya.
Setelah mendapatkan respon positif dari masyarakat, pengembangan dilanjutkan dengan penambahan wahana satu persatu dan sarana penunjang lainnya. Program promosi juga mulai digalakkan melalui media lokal dan kemitraan dengan komunitas wisata.
Langkah ini terbukti berhasil. Dari yang awalnya hanya area produksi teh, kini Jamus telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Ngawi. Potensi alam yang melimpah, suasana sejuk pegunungan, dan hamparan kebun teh yang menenangkan menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.

Setiap akhir pekan, kawasan ini dipadati wisatawan lokal maupun luar daerah yang datang untuk berlibur dan menikmati udara segar pegunungan. Tak hanya itu, keberadaan agrowisata ini juga turut membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar, serta menjadi media edukasi yang menarik bagi pelajar tentang dunia pertanian dan proses produksi teh.
Kini, Jamus bukan hanya sekedar warisan perkebunan peninggalan kolonial, tetapi juga simbol keberhasilan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan bermanfaat luas bagi masyarakat. Tiara – LINES MADURAN























