Lamongan (1/6). DPD LDII Kabupaten Lamongan sukses menyelenggarakan “Diklat Standardisasi Metode Tilawati Level 1” pada Minggu (31/05/2026). Agenda ini hasil kerja sama antara Tilawati Cabang Gresik dengan DPD LDII Lamongan bertempat di Masjid An-Namiroh, Sukodadi, Lamongan. Kegiatan strategis ini berhasil mengumpulkan sekitar 200 guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang merupakan perwakilan dari 22 Pengurus Cabang (PC) LDII di tingkat kecamatan se-Kabupaten Lamongan.
Acara formal ini dihadiri dan dibuka oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Anggota Komisi VI DPR RI, H. Ahmad Labib, S.H.I., M.H., serta Ketua DPD LDII Lamongan, Drs. H. Agus Yudi, M.Pd. Guna mengawal akurasi standardisasi, panitia juga menghadirkan Kepala Cabang Tilawati Gresik, Mahbub Ihsan, S.Pd.I., M.M., bersama tim pemateri dan tim munaqisy sebagai tim penguji resmi.
Ketua Panitia Pelaksana, Syahrul Mukarom menjelaskan sebaran peserta mencakup wilayah utara seperti Brondong dan Paciran, wilayah tengah meliputi Maduran, Sekaran, dan Lamongan, hingga wilayah selatan seperti Babat dan Sambeng. Keterwakilan peserta terbanyak pada periode ini tercatat berasal dari wilayah Lamongan dan Sukodadi.
“Jumlah peserta sekitar 230 orang dengan jumlah terbanyak dari Lamongan dan Sukodadi,” ucap Syahrul.
Syahrul Mukarom menegaskan bahwa diklat ini merupakan bentuk komitmen nyata dari panitia dan DPD LDII Lamongan untuk terus mengembangkan kompetensi para pengajar dilapangan yang menjadi ujung tombak pembentukan karakter generasi yang berlandaskan Al Quran di masa depan.

“Latar belakang utamanya adalah komitmen DPD LDII Lamongan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini. target jangka pendeknya, kami ingin memastikan para guru pulang membawa teknik mengajar yang lebih menyenangkan dan efektif. Untuk jangka panjang, kami menargetkan adanya standardisasi mutu bacaan di seluruh TPQ naungan LDII se-Kabupaten Lamongan, sehingga kualitas output santri kita merata di semua wilayah.” ujar Syahrul.
Lebih lanjut, Syahrul menjelaskan pemilihan metode Tilawati karena sistemnya yang telah teruji secara nasional dalam memudahkan anak-anak belajar membaca Al-Qur’an secara tartil.
“Praktek penggunaan pendekatan klasikal dengan lagu Rost terbukti sangat efektif karena ramah di telinga anak-anak, membuat suasana belajar lebih dinamis, tidak monoton, serta didukung oleh manajemen kelas yang jauh lebih tertata, ucap Syahrul.
Melalui kesuksesan eksekusi diklat level 1 ini, pihak panitia berharap standardisasi pengajaran Al-Qur’an dapat segera diimplementasikan secara merata oleh seluruh peserta di unit TPQ masing-masing demi mewujudkan generasi yang qur’ani di Kabupaten Lamongan. (Suci – LINES Maduran)























