Lamongan (7/10). PC LDII Lamongan mengadakan seminar parenting untuk orang tua dan remaja pada hari Minggu (4/10) di Masjid Babussalam Kelurahan Banjarmendalan, Lamongan Jatim. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar seratusan peserta dari orang tua dan remaja dari kecamatan Lamongan Kota, kecamatan Deket, kecamatan Karangbinangun, kecamatan Turi dan Kecamatan Sukodadi.
Dalam pemaparannya, Ustad Wirai menjelaskan menekankan pentingnya peran ayah dan ibu bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, sahabat, dan teladan bagi anak-anaknya. “Ketika anak masih kecil, ayah harus hadir, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti memandikan atau membersihkan anak. Itu akan menjadi kenangan yang melekat dan menumbuhkan kedekatan emosional,” ungkap Wirai.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan mendidik anak adalah kedekatan, doa, kesabaran, serta teladan nyata dari orang tua. Wirai menegaskan bahwa kunci utama mendidik anak adalah keteladanan orang tua, niat ikhlas, komunikasi yang hangat, lingkungan yang baik, doa yang tiada putus, serta kesabaran dan konsistensi dalam proses panjang pendidikan. Dengan kombinasi itu, anak akan tumbuh menjadi generasi sholeh dan sholehah yang berakhlak mulia. Apalagi diusia remaja yang membutuhkan sosok untuk diajak curhat dan bertukar pikiran. “Komunikasi adalah kunci. Tanpa komunikasi, tidak ada hubungan. Tanpa hubungan, tidak ada pengaruh,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia juga mengkhawatirkan peran ayah saat ini yang semakin tereduksi hanya sebatas mencari nafkah, tanpa peran yang lain dalam keluarga. “Sehingga seringkali dijumpai anak-anak yang memiliki ayah, tetapi kehilangan figur ayah. Penting untuk kita pahami bedanya antara “ayah” dan “figur ayah”. Anak yatim misalnya, tidak punya ayah namun bisa mendapatkan figur ayah dari kakek, paman, atau kakak dan sebagainya,” paparnya.
“Negara kita termasuk dalam kategori negara tanpa ayah, bahkan urutan ketiga. Hal ini menjadi perhatian khusus kita bersama bahwa kehadiran ayah dalam pengasuhan anak sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang sang anak,” katanya.
Wirai juga menambahkan, perlunya orang tua untuk memiliki prinsip kuat dan kemampuan untuk memilih pola asuh yang sesuai. “Banyaknya informasi tentang parenting sering kali membuat orang tua bingung, maka tak perlu membandingkan diri dengan keluarga lain di media sosial,” imbuhnya.
Selain itu, Wirai mengatakan tantangan pengasuhan saat ini semakin kompleks karena anak memiliki akses luas terhadap berbagai informasi. Orang tua perlu memahami dunia digital agar dapat memberikan pendampingan secara proporsional, “Kita tidak bisa sekadar melarang anak menggunakan gawai. Orang tua perlu memahami manfaat dan risikonya, kemudian membuat aturan yang disepakati bersama,” ujarnya.
Menurut Wirai, pembentukan karakter perlu dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Nilai keagamaan, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, sopan santun, dan kepedulian terhadap sesama perlu dibangun melalui praktik sehari-hari.
“Keteladanan lebih mudah diterima anak daripada nasihat yang hanya disampaikan berulang-ulang. Karena itu, orang tua harus terlebih dahulu memberikan contoh,” katanya.
Disesi terakhir, anak remaja diajak untuk merefleksikan diri dan mengingatkan birulwalidain dengan memohon maaf kepada orang tua masing masing.






















