Surabaya (9/2). Meskipun teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini semakin memudahkan proses produksi konten, seorang jurnalis tetap dituntut untuk menguasai fundamental teknik penulisan berita yang benar demi menjamin akurasi dan mencegah disinformasi. Prinsip dasar inilah yang menjadi fokus utama dalam pelatihan jurnalistik yang digelar di GSG Sabilurrosyidin, Surabaya, pada Sabtu (7/2). Kegiatan ini bertujuan memastikan bahwa di tengah kecanggihan teknologi, peran manusia sebagai verifikator informasi tetap tidak tergantikan, terutama dalam menyusun produk jurnalistik yang berbasis pada data lapangan yang autentik.
Hadir sebagai pemateri, Anggota LDII News Network (LINES) DPP LDII, Faqihu Sholih, memaparkan bahwa pemahaman terhadap nilai berita adalah filter pertama yang harus dimiliki sebelum sebuah informasi dipublikasikan. Ia merinci bahwa setiap karya jurnalistik harus tetap berpedoman pada kaidah 5W+1H (What, Who, Where, When, Why, dan How) agar informasi yang disampaikan bersifat utuh, sistematis, dan tidak menimbulkan kerancuan. Menurutnya, pemenuhan unsur-unsur dasar tersebut adalah cara paling efektif untuk menjaga kredibilitas tulisan di mata pembaca. Selain itu, ia menjelaskan aspek krusial lainnya yang menentukan kelayakan berita, seperti popularitas tokoh, skala dampak peristiwa, hingga faktor kedekatan geografis maupun psikologis dengan publik.

“Tidak semua hal layak dijadikan berita. Oleh karena itu, sebelum menulis, seorang jurnalis harus melakukan observasi mendalam untuk menilai apakah peristiwa tersebut memiliki urgensi dan nilai yang kuat. Pastikan seluruh unsur 5W+1H terpenuhi agar berita tidak hanya cepat, tapi juga benar dan tuntas,” jelas Faqihu.
Lebih lanjut, anggota LINES DPP LDII ini menekankan bahwa integritas sebuah tulisan di era digital sangat bergantung pada proses riset dan validasi narasumber. Menurutnya, penguasaan data melalui riset sebelum wawancara bukan hanya meningkatkan kualitas berita, tetapi juga menjadi modal utama profesionalisme di lapangan. “Wartawan harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat melakukan wawancara. Cara terbaik untuk membangun kepercayaan diri tersebut adalah dengan melakukan riset mendalam terlebih dahulu agar kita memahami duduk perkara secara utuh,” tambah Faqihu Sholih.
Melalui pelatihan ini, LDII Jawa Timur berharap para kader media di berbagai daerah mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan kaidah-kaidah jurnalistik yang baku. Dengan penguatan pada teknik dasar 5W+1H dan kemampuan riset yang tajam, diharapkan setiap informasi yang dihasilkan oleh LINES di tingkat kabupaten/kota tidak hanya mampu bersaing di ruang digital, tetapi juga menjadi penangkal efektif terhadap sebaran hoaks serta disinformasi yang kian masif di masyarakat.























