Sugio (28/7). Dalam kunjungan Kapolres Lamongan, AKBP Arif Fazlurrahman ke Ponpes Al-Karim dan Lembaga Pendidikan Budi Luhur Sugio, beliau tidak hanya menyampaikan pesan moral kepada santri dan siswa. Beliau juga mengungkapkan kekagumannya terhadap tradisi berbahasa Jawa krama yang masih dijaga dengan baik di lingkungan pendidikan tersebut yang disampaikan di Aula Pondok Pesantren Al-Karim Sugio pada Selasa (20/7).
AKBP Arif Fazlurrahman menuturkan ditengah banyaknya pondok pesantren yang mengusung konsep berbahasa asing, Ponpes Al-Karim dan Lembaga Pendidikan Budi Luhur memilih fokus pada penggunaan bahasa Jawa krama. Menurutnya, hal ini sangat membantu dalam pembentukan karakter mulia bagi para santri dan siswa.
“Dari banyaknya pondok yang mengusung konsep berbahasa asing, pondok Al-Karim dan Lembaga Pendidikan Budi Luhur memilih fokus pada penggunaan bahasa Jawa krama sehingga sangat membantu siswa dalam pembentukan karakter yang mulia,” ujarnya.
Kekaguman Kapolres Lamongan ini sejalan dengan penjelasan Ketua Yayasan Al-Karim, Sucipto, yang menegaskan bahwa program berbahasa Jawa krama dipadukan dengan praktik 29 karakter unggulan.
“Program berbahasa yang baik dan praktik 29 karakter tersebutlah yang membuat sekolah kami dikenal sebagai sekolah berkarakter sehingga mudah mendapatkan akreditasi A,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPD LDII Lamongan, Agus Yudi, menambahkan harapannya agar program ini terus berlanjut. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter melalui bahasa dan budaya lokal akan melahirkan generasi pemimpin bangsa yang berakhlak mulia.
“Kami berharap program ini bisa berlanjut terus sehingga ke depan bangsa kita dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang memiliki karakter yang mulia,” pesannya.
Kunjungan Kapolres Lamongan ini tidak hanya menjadi momentum silaturahmi antara kepolisian dan lembaga pendidikan, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam membangun generasi muda yang berkarakter, berakhlak, dan tetap menjunjung tinggi budaya lokal. Tradisi berbahasa Jawa krama yang diapresiasi Kapolres menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu menjadi pondasi kuat dalam pendidikan karakter di era modern.























