Babat (1/8). Membina bahtera rumah tangga dalam Islam tidak sekadar mengejar kebahagiaan fana di dunia, melainkan bernilai ibadah sebagai jalan utama menuju keabadian di akhirat. Kesadaran mendalam inilah yang menggerakkan Pimpinan Cabang (PC) LDII Kecamatan Babat menggelar “Pengajian Sarimbit Sehidup Sesurga” di Masjid Baitul Firdaus, Babat, pada Minggu, (26/7). Menghadirkan ratusan pasangan suami istri dari berbagai usia pernikahan, acara ini dirancang khusus untuk merawat serta memperkuat nilai-nilai sakinah, mawaddah, rahmah, dan barokah di tengah kompleksitas zaman modern.
Dewan Penasihat LDII Babat, KH Achmat Anas, S.T., menegaskan bahwa keharmonisan rumah tangga memegang peran vital sebagai pilar utama untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang kokoh. Senada dengan hal tersebut, Ketua PC LDII Babat, Sumarlin, berharap kegiatan ini mampu menjadi bekal praktis bagi para pasangan dalam merawat cinta dan memandang pernikahan sebagai bentuk ketaatan.
“Keluarga yang harmonis adalah kunci utama terbentuknya masyarakat yang kuat serta anak-anak yang bahagia,” ungkap Sumarlin.
Sesi materi pertama membuka wawasan peserta melalui pemaparan dr. Rio Azadi, Sp.PD., yang mengupas tuntas konsep komunikasi keluarga berbasis kenabian. Menurutnya, teori bahasa cinta modern yang dipopulerkan Gary Chapman sejatinya telah lama dicontohkan oleh Rasulullah SAW lewat perilaku sunnah dan tutur kata beliau.
“Islam sudah jauh lebih lengkap, dan Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bagaimana membangun keharmonisan suami istri lewat perilaku sunnah serta perkataan beliau,” tutur dr. Rio di hadapan para peserta.
Ia menambahkan, kunci keutuhan rumah tangga terletak pada kesadaran bahwa suami dan istri diciptakan dengan kodrat serta karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan untuk dibenturkan, melainkan saling menyempurnakan bagaikan kepingan puzzle. Mengingat dinamika dan ujian pasti selalu ada di setiap fase pernikahan, setiap pasangan diingatkan untuk kembali pada niat awal berumah tangga sebagai ibadah murni kepada Sang Pencipta.
Sementara itu, psikolog Sovia Sahid, M.Psi., memaparkan data empiris yang mencengangkan mengenai akar konflik rumah tangga.
“Sebanyak 70 persen persoalan yang berujung pada meja konsultasi perkawinan sebenarnya bersumber dari hambatan komunikasi serta akumulasi konflik yang diabaikan sejak masa-masa awal berumah tangga,” jelas Sovia dalam pemaparannya.

Dalam penjelasannya, Sovia merinci lima fase krusial perjalanan pernikahan. Fase pertama adalah Fase Bulan Madu pada usia nol hingga dua tahun yang dipenuhi proses adaptasi. Fase kedua adalah Fase Kekecewaan saat tabiat asli mulai tampak nyata. Fase ketiga adalah Fase Kesadaran saat pasangan mulai merenungi kesukaan dan ketidaksukaan satu sama lain. Fase keempat adalah Fase Perubahan sebagai wujud nyata upaya perbaikan diri. Terakhir adalah Fase Cinta Sejati yang baru tercapai setelah melewati sepuluh tahun pernikahan manakala pasangan telah benar-benar sejiwa dan dilandasi kesabaran panjang.
Dari sisi ilmiah, Sovia juga membedakan pola komunikasi unik antara perempuan yang mengucapkan sekitar 21.000 kata per hari dan laki-laki yang hanya berkisar 7.000 kata per hari. Hal ini mendasari kodrat perempuan yang membutuhkan ruang untuk didengar, sementara laki-laki berpikir lebih ringkas serta berorientasi pada penyelesaian masalah. Lebih lanjut, Sovia memperkenalkan konsep tangki cinta yang harus senantiasa dipelihara dan diisi secara berkala melalui kata-kata pendukung, waktu berkualitas, sentuhan fisik yang menenangkan, tindakan pelayanan tulus, serta pemberian hadiah kecil.

Rangkaian pengajian ditutup secara khidmat melalui sesi refleksi yang mengharukan. Para peserta diajak merenung, saling mengungkapkan rasa syukur, doa, serta pesan mendalam seolah hari itu adalah kesempatan terakhir mereka bersama. Suasana sarat emosi tersebut sukses membuat banyak pasangan suami istri meneteskan air mata, memperbarui komitmen cinta mereka untuk menggapai rida Allah SWT hingga ke surga-Nya. (Zoga – LINES Babat)























