Ngawi (7/8). Perkebunan dan pabrik teh jamus berhasil mengubah potensi air lokal menjadi sumber energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Inovasi ini tidak hanya menyuplai listrik untuk pabrik pengolahan teh, tapi juga mengurangi kebisingan dan konsumsi energi fosil, sekaligus menjadi model ketahanan energi dan pangan berbasis lokal.
Pabrik teh warisan Belanda seluas 478 hektar yang berdiri sejak tahun 1928 ini dulunya bergantung pada bahan bakar minyak dan kayu bakar. Kini, seluruh operasionalnya telah beralih ke listrik mandiri yang dihasilkan dari PLTMH. Inisiatif ini berhasil diwujudkan berkat peran Purwanto Wahyu Priyono dalam menerapkan energi baru terbarukan di kawasan tersebut.

“Manfaat PLTMH tak hanya dirasakan industri, tapi juga masyarakat sekitar. Penghematan biaya solar yang tadinya mencapai Rp80 juta per bulan kini tinggal Rp7 juta. Di sisi lain, udara lebih bersih karena emisi asap berhasil ditekan secara signifikan” ucap Nur Ikhsan selaku mandor besar dan teknisi PLTMH
Pembangunan PLTMH ini merupakan wujud kontribusi LDII dalam mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Selain itu, LDII juga telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. “Pengembangan EBT kami sesuaikan dengan karakteristik lingkungan. Di Perkebunan Teh Jamus, misalnya, kami memilih membangun PLTMH karena kondisi geografis yang memungkinkan,” ujar Nur ikhsan. Ia juga menambahkan bahwa mata air Sumber Lanang tak hanya mengairi sawah warga, tetapi juga menjadi sumber energi ramah lingkungan untuk penerangan jalan desa. Royan- LinesSugio























