Babat (2/1). Ratusan remaja LDII dari berbagai PAC di wilayah Babat mengikuti Forum Group Discussion (FGD) dalam rangkaian Samudra 2025: Semarak Mengaji Akhir Tahun Muda-Mudi Babat. Kegiatan ini digelar di Masjid Baitul Firdaus Kebalandono, Rabu (31/12), sebagai upaya menggali pandangan, pengalaman, dan persoalan yang tengah dihadapi generasi muda.
FGD melibatkan peserta dari tiga jenjang, yaitu SMP, SMA, dan usia mandiri. Setiap kelompok dipandu pendamping yang sebelumnya telah mendapatkan briefing serta arahan mengenai aturan diskusi. Metode FGD dipilih agar peserta lebih leluasa berbicara, berdiskusi, dan saling bertukar pandangan mengenai isu-isu yang dekat dengan kehidupan mereka.

Koordinator FGD, Mahzumi Alfian B., S.Ds., menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dari pembinaan remaja LDII. “Sesi FGD sangat perlu dilakukan sebagai bentuk pembinaan generasi muda LDII agar kita bisa melihat realita zaman sekarang sesuai usia masing-masing, sekaligus melatih kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, dan berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan serta menyampaikan unek-uneknya,” ujarnya.
Selama diskusi, peserta diarahkan membahas sejumlah topik utama. Di antaranya mengenai jati diri di media sosial, batasan dalam pergaulan, hingga kesiapan memilih pasangan hidup yang baik di masa depan. Para peserta juga diberi kesempatan menyampaikan kritik, saran, dan harapan mereka terhadap kegiatan kepemudaan yang selama ini berjalan.
Panitia FGD, Zoga Arbi Anggara, A.Md.T., menuturkan bahwa ide pelaksanaan forum ini berangkat dari kebutuhan nyata di kalangan remaja. “Ide ini muncul karena sebelumnya belum ada wadah yang luas bagi remaja LDII untuk menyampaikan aspirasinya. Dengan FGD, kami ingin menyediakan ruang yang aman, terbuka, dan terarah bagi mereka,” katanya.
Dari sisi pelaksanaan, pendamping FGD turut berperan besar memastikan diskusi berjalan kondusif. Salah satunya, Ichwan Ari Mahmudi, menilai respon peserta sangat positif. “Kegiatannya cukup baik. Walaupun yang saya dampingi masih usia SMP, mereka mau mengungkapkan pendapat, terbuka dengan permasalahan yang ada, dan bersama-sama mencari solusi,” ujarnya.

Antusiasme juga dirasakan para peserta. Arta, salah satu peserta FGD, menyampaikan kesannya mengikuti diskusi. “Acara tahun baru yang diselingi FGD ini sangat seru. Kami bisa saling mengenal, berdiskusi, dan menyampaikan keluh kesah dengan bimbingan pendamping,” ungkapnya.
Panitia menilai, melalui FGD, banyak masukan penting yang dapat ditindaklanjuti dalam program kepemudaan ke depan. Selain menjadi ruang berbagi, kegiatan ini juga mengajarkan remaja untuk berani berbicara, menghargai pendapat orang lain, serta membiasakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.
Dengan hadirnya FGD dalam Samudra 2025, diharapkan pembinaan generasi muda LDII semakin relevan dan menyentuh kebutuhan nyata remaja. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menyiapkan generasi yang berkarakter, kritis, dan siap menghadapi tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai agama yang menjadi pegangan hidup mereka. ( Zoga – LINES Babat )























